Diberdayakan oleh Blogger.

Minggu, 19 Desember 2010

JEROME S. BRUNER

Jerome S. Bruner adalah seorang ahli psikologi perkembangan dan ahli psikologi belajar kognitif. Pendekatannya tentang psikologi adalah eklektik. Dari penelitiannya itu banyak mengandung persepsi manusia, motivasi belajar dan berpikir. 



Dalam mempelajari manusia, ia mengganggap manusia sebagai pemroses, pemikir dan pencipta informasi (Dahar, 1989).

Menurut Budiningsih (2005) Bruner juga seorang pengikut setia teori kognitif khususnya dalam studi perkembangan fungsi kognitif. Ia menandai perkembangan kognitif manusia sebagai berikut:
 
1. Perkembangan intelektual ditandai dengan adanya kemajuan dalam menanggapi suatu rangsangan.
 
2. Peningkatan pengetahuan tergantung pada perkembangan sistem penyimpanan informasi secara realis.
 
3. Perkembangan intelektual meliputi perkembangan kemampuan berbicara pada diri sendiri atau pada orang lain melalui kata-kata atau lambang tentang apa yang telah dilakukan dan apa yang dikerjakan.
 
4. Interaksi secara sistematis antara pembimbing, guru atau orang tua dengan anak diperlukan bagi perkembangan kognitifnya.
 
5. Bahasa adalah kunci perkembangan kognitif, karena bahasa merupakan alat komunikasi antara manusia. Untuk memahami konsep-konsep yang ada diperlukan bahasa serat diperlukan untuk mengkomunikasikan suatu konsep.
 
6. Perkembangan kognitif ditandai dengan kecakapan untuk mengemukakan beberapa alternative secara simultan, memilih tindakan yang tepat, dapat memberikan proritas yang berurutan salam berbagai situasi.
 
Bruner memusatkan perhatiannya pada masalah apa yang dilakukan manusia dengan informasi yang diterimanya dan apa yang dilakukannya sesudah memperoleh informasi yang diskrit itu untuk mencapai pemahaman yang memberikan kemampuan padanya.

1. Proses Belajar Mengajar
 
Bruner mengemukakan bahwa belajar melibatkan tiga proses yang berlangsung hampir bersamaan. Ketiga proses itu ialah memperoleh informasi baru, transformasi dan informasi dan menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan. Ia juga sering menyebutkan bahwa pandangannya tentang belajar atau pertumbuhan kognitif sebagai konseptualisme instrumental (Dahar ,1989).
 
Adapun teorinya yang pernah dikemukakan yakni “free discovery learning”. Menurut teori itu proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu aturan termasuk (konsep, teori, definisi) melalui contoh-contoh yang menggambarkan aturan yang ia jumpai dalam kehidupannya. Proses belajar terjadi lebih ditentukan oleh cara kita mengatur materi pelajaran dan bukan ditentukan oleh usia peserta didik (Uno, 2000).
 
Proses belajar terjadi melalui tahap-tahap yaitu:
 
1. Tahap Enaktif ialah melalui tindakan, jadi bersifat manipulatif. Pada tahap ini seseorang mengetahui suatu aspek dari kenyataan tanpa menggunakan pikiran atau kata-kata dan terdiri atas penyajian kejadian-kejadian yang lampau melalui respon-respon motorik. Dengan cara ini dilakukan satu set kegiatan-kegiatan untuk mencapai hasil tertentu.
 
2. Tahap Ikonik ialah suatu tahap yang berdasarkan pikiran internal . pengetahuan disajikan oleh sekumpulan gambar-gambar yang mewakili suatu konsep, tetapi tidak mendefinisikan sepenuhnya konsep itu. Penyajian ikonik terutama dikendalikan oleh prinsip-prinsip organisasi perseptual dan oleh transformasi-transformasi secara ekonomis dalam organisasi perseptual. Penyajian ikonik tertinggi pada umumnya dijumpai pada anak-anak berumur 5 dan 7 tahun yaitu periode waktu anak sangat tergantung pada penginderaannya sendiri.
 
3. Tahap Simbolik ialah suatu tahap yang penyajian berdasarkan pada sistem berpikir abstrak, arbitrer dan lebih fleksibel serta menggunakan kata-kata atau bahasa. Penyajian simbolik menggunakan dibuktikan oleh kemampuan seseorang lebih memperhatikan proposisi atau pernyataan daripada objek-objek, memberikan struktur hierarkis pada konsep-konsep dan memperhatikan kemungkinan-kemungkinan alternatif dalam suatu cara kombinatorial.

2. Metode Belajar
 
Salah satu model instruksional kognitif yang sangat berpengaruh ialah model dari Jerome Bruner (1966) yang dikenal dengan nama belajar penemuan (discovery learning). Bruner menganggap, bahwa belajar penemuan sesuai degan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia, dan dengan sendirinya memberikan hasil yang paling baik. Berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna. Belajar bermakna dengan arti seperti diberikan di atas, merupakan satu-satunya macam belajar yang mendapat perhatian Bruner.
 
Bruner menyatakan agar siswa-siswa hendaknya belajar melalui berpartisipasi secara aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, agar mereka dianjurkan untuk memperoleh pengalaman, dan melakukan eksperimen-eksperimen yang mengizinkan mereka untuk menemukan prinsip-prinsip itu sendiri.
 
Pengetahuan yang diperoleh dengan belajar penemuan menunjukkan beberapa kebaikan. Pertama, pengetahuan itu bertahan lama atau lama dapat diingat, dengan cara-cara lain. Kedua, hasil belajar penemuan mempunyai efek transfer yang lebih baik daripada hasil belajar lainnya. Dengan kata lain, konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang dijadikan milik kognitif seseorang lebih mudah diterapkan pada situasi-situasi baru. Ketiga, secara menyeluruh belajar penemuan meningkatkan penalaran siswa dan kemempuan untuk berfikir secara bebas. Secara khusus belajar penemuan melatih keterampilan-keterampilan kognitif siswa untuk menemukan dan memecahkan masalah tanpa pertolongan orang lain.
 
Selanjutnya dikemukakan, bahwa belajar penemuan, membangkitkan keingintahuan siswa, memberi motivasi untuk bekerja terus sampai menemukan jawaban-jawaban. Lagi pula pendekatan in dapat mengajarkan keterampilan-keterampilan memecahkan masalah tanpa pertolongan orang lain, dan meminta para siswa untuk menganalisis dan memanipulasi informasi, tidak hanya menerima saja.
 
Bruner menyadari, bahwa belajar penemuan yang murni memerlukan waktu, karena itu dalam bukunya “The Relevance of Education (1971), ia menyarankan agar penggunaan belajar penemuan ini hanya diterapkan sampai batas-batas tertentu, yaitu dengan mangarahkannya pada struktur bidang studi.
 
Struktur suatu bidang studi terutama diberikan oleh konsep-konsep dasar dan prinsip-prinsip dari bidang strudi itu. Bila seorang siswa telah mengusai struktur dasar, maka kurang sulit baginya untuk mempelajari bahan-bahan pelajaran lain dalam bidag studi yang sama, dan ia akan lebih mudah ingat akan bahan baru yang bermakna, yang dapat digunakannya untuk melihat hubungan-hubungan yang esensial dalam bidang studi itu, dan dengan demikian dapat memahami hal-hal yang mendetail.
 
Menurut Bruner, mengerti struktur suatu bidang studi adalah memahami bidang strudi itu sedemikian rupa sehingga dapat menghubungkan hal-hal lain pada struktur itu secara bermakna. Secara singkat dapat dikatakan bahwa mempelajari struktur adalah mempelajari bagaimana hal-hal dihubungkan.

Teori Instruksi Bruner
 
Pada bagian ini akan di bahas bagaimana pengajaran atau instruksi dilaksanakan sesuai dengan teori yang dikemukakan tentang belajar. Menurut Bruner, suatu teori instruksi (Bruner, 1966) hendaknya meliputi :
 
1. Pengalaman-pengalaman optimal bagi siswa untuk mau dan dapat belajar.
2. penstrukturan pengetahuan untuk pemahaman optimal.
3. Perincian urutan-urutan penyajian meteri pelajaran secara optimal.
4. Bentuk dan pemberian reinfosmen.

1. Pengalaman-pengalaman optimal bagi siswa untuk mau dan dapat belajar
 
Menurut Bruner, belajar dan pemecahan masalah tergantung pada penyelidikan alternatif-alternatif. Oleh karena itu pengajaran atau instruksi harus memeprlancar dan mengatur penyelidikan alternatif-alternatif, ditinjau dari segi siswa.
Penyelidikan alternatif-alternatif membutuhkan aktivitasi, pemeliharaan, dan pengarahan. Dengan kata lain, penyelidikan altenatif-alternatif membutuhkan membutuhkan suatu untuk dapat mulai, sesudah dimulai keadaan itu harus dipelihara atau dipertahankan, kemudian dijaga agar tidak kehilangan arah.

2. Penstukturan Pengetahuan Untuk Pemahaman Optimal
 
Struktur suatu domain pengetahuan mempunyai tiga ciri dan setiap ciri itu mempengaruhi kemampuan siswa untuk menguasainya. Ketiga ciri itu ialah cara penyajian (mode of representation), ekonomi dan kuasa (power). Cara penyajian, ekonomi dan kuasa, berbeda bila dihubungkan dengan usia ‘gaya’ para siswa dan jenis bidang studi.
 
Ekonomi dalam penyajian pengetahuan dihubungkan dengan sejumlah informasi yang dapat disimpan dalam pikiran dan diproses untuk mencapai pemahaman. Makin banyak jumlah informasi yang harus dipelajari siswa untuk memahami sesuatu atau untuk menangani suatu masalah, makin banyak langkah-langkah yang harus ditempuh dalam memproses informasi untuk mencapai suatu kesimpulan dan maki kurang ekonomis.

3. Perincian Urutan-Urutan Penyajian Materi Pelajaran Secara Optimal
 
Dalam mengajar, siswa dibimbing melalui urutan pernyataan-pernyataan dari suatu masalah atau sekumpulan pengetahuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menerima, mengubah dan mentransfer apa yang telah dipelajarinya. Jadi, urutan materi pelajaran dalam suatu domain pengetahuan mempengaruhi kesulitan yang dihadapi siswa dalam mencapai penguasaan. Biasanya ada berbagai urutan yang setara dalam kemudahan dan kesulitan bagu para siswa. Dikemukakan oleh Bruner, bahwa perkembangan intelektual bergerak dari penyajian enaktif, melalui penyajian ekonik ke penyajian simbolik.
 
4. Bentuk dan Pemberian Reinformasi
 
Bentuk hadiah atau pujian dan hukuman harus dipikirkan. Demikian pula bila pujian atau hukuman itu diberikan selama proses belajar-mengajar. Secara intuitif, bahwa selam proses belajar mengajar berlangsung, ada suatu ketika hadiah eksentrik bergeser ke hadiah intrinsik.
 
3. Media Yang Digunakan Pada Teori Bruner
 
Teori Bruner banyak mengemukakan untuk belajar menemukan, yang mana guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu aturan termasuk (konsep, teori, definisi) melalui contoh-contoh yang menggambarkan aturan yang ia jumpai dalam kehidupannya.
Media yang cocok untuk teori Bruner yakni media dua dimensi adalah semua bentuk gambar yang menampilkan suatu objek. Misalnya gambar, chart, poster, foto dan bahan grafik. 

Misalya bahan grafis yang merupakan media visual non proyeksi yang mudah karena itu tidak membutuhkan peralatan dan relatif murah. Menurut Brown et. al (1985) ada lima jenis media grafis yang memiliki keunggulan yang tinggi yakni graft, chart, diagram, peta atau globe.
 
DAFTAR PUSTAKA

Budiningsih, Asri, 1989.Belajar dan Pembelajaran, Jakarta
 
Dahar, Ratna Wilis, 2005, Teori-Teori Belajar, Rineka Cipta, Bandung.


Silahkan Baca juga Postingan berikut:

0 komentar:


Komentar Anda

 

Ucapan Terima Kasih

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, Saya ingin mengungkapkan rasa syukur ke hadirat Allah SWT, dan mengucapkan terima kasih yang tak terhingga, atas segala saran, sambutan dan komentar atas blog yang baru saya ciptakan ini. Saya menyimak dengan sungguh-sungguh semua masukan yang telah diberikan. Saya menganggap semua itu sangat berharga bagi saya, sebagai seorang pemula di dunia blog. Saya telah bertemu secara langsung dengan beberapa senior saya, k' Ishak, Bang Momang dan beberapa yang lain. Saya mulai belajar dari mereka di Roemah Kopi di Jl. Sultan Alauddin No. 148 Makassar Sulawesi Selatan. Pelajaran yang saya terima sungguh sangat berharga. Saya bukan saja dapat berkenalan secara langsung dengan mereka yang telah relatif lama berkecimpung di dunia perblogan, tetapi juga dapat menimba ilmu dengan mereka. Atas kebaikan dan saran mereka, serta rekan-rekan yang lain, akhirnya saya membuat blog saya sendiri, sebagai wahana pembelajaran bagi saya dan dalam bertukar pikiran khususnya dalam bidang Fisika yang saya geluti. Mereka bahkan telah berbaik hati membantu saya membuat blog yang baru, dengan disain dan penampilan, yang Insya Allah, akan lebih baik. Blog ini saya buat untuk mendukung pekerjaan saya sebagai Tenaga Pendidik. Dengan blog ini, rekan-rekan yang ingin menyampaikan komentar, akan lebih mudah melakukannya. Saya ingin membuka ruang yang selebar-lebarnya pada blog saya ini, sehingga mereka yang bukan “blogger” juga dapat mengakses dan menyampaikan komentar mereka. Saya ingin belajar, mendengar dan memperhatikan pandangan dari semua orang, tanpa mempersoalkan siapa orang itu. Mungkin pandangan kita berbeda, bahkan bertentangan satu sama lain. Tetapi tidak mengapa. Saya percaya bahwa hikmah dan kebijaksanaan, akan kita peroleh di tengah benturan pendapat yang berbeda-beda. Meskipun demikian, dalam rangka pembelajaran bagi kita semua, alangkah baiknya jika suatu pendapat yang kita kemukakan, didasari oleh argumentasi-argumentasi sebagai pendukungnya. Seperti telah saya ungkapkan dalam Kata Pengantar, saya hanyalah seorang hamba Allah yang dhaif. Pengetahuan saya sangatlah terbatas. Karena itu, saya berlindung kepada Allah SWT, agar saya dijauhkan dari sikap “ngotot” dan ingin benar sendiri. Saya selalu mengemukakan pendapat dengan dilandasi oleh suatu argumen. Kalau ternyata, dalam suatu pertukar-pikiran, saya menemukan pendapat orang lain yang didukung oleh argumen yang lebih kokoh dibandingkan dengan argumen yang saya miliki, maka saya dengan tulus dan ikhlas akan meninggalkan pendapat saya, dan mengikuti pendapat orang lain itu. Saya selalu memohon kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, semoga saya dijauhkan dari segala sikap takabur, riya dan sombong. Semoga pula Dia senantiasa menyirami batin dan pikiran saya, dengan sikap tawaddhu’ dan rendah hati. Sebelum mengakhiri ungkapan terima kasih ini, saya ingin mengajak rekan-rekan semua untuk tetap menggunakan bahasa yang baik, sopan dan saling menghormati, walaupun mungkin kita berbeda dalam mengemukakan pendapat. Akhirnya, saya mohon maaf tentang penggunaan bahasa yang kurang pas. Raja Ali Haji bin Raja Ahmad, seorang pujangga Melayu keturunan Bugis yang hidup di abad 19. Beliau pernah berkata bahwa bahasa itu menunjukkan bangsa. Bahasa yang baik, menunjukkan bangsa yang baik. Bahasa yang buruk, menunjukkan bangsa yang buruk pula. Wallahu’alam bissawwab.

Banner