Diberdayakan oleh Blogger.

Minggu, 19 Desember 2010

Teori Belajar Monograf

I. PENDAHULUAN
Sebagai negara yang menempatkan pendidikan pada posisi penting maka hal tersebut dituangkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 yang secara tegas menyatakan bahwa setiap warga negara mempunyai hak mendapatkan pendidikan. Dengan demikian ini ditujukan bagi warga negara laki-laki maupun perempuan. Hal ini menunjukkan negara memiliki sikap kesetaraan terhadap warga negaranya.
Penyikapan oleh negara tersebut belum cukup dirasakan utuh pada tataran praksis. 



Dunia pendidikan cenderung masih merupakan dunia laki-laki dan menyisakan sedikit tempat untuk perempuan. Masih nampak adanya pemiskinan kesempatan dalam menempuh pendidikan. Di dalam kehidupan masyarakat pada umumnya, gejala itu dapat dilihat dari pemberian prioritas utama kepada anak laki-laki untuk memperoleh pendidikan tinggi, pada keluarga yang memiliki anak perempuan dan laki-laki. Nampak terjadi diskriminasi antara perempuan dan laki-laki, yaitu adanya perlakuan yang tidak berimbang antara kedua kelompok gender. Perlakuan yang ditunjukkan sebagaimana di atas disebut bias gender. Adapun dalam pelaksanaan pendidikan formal, pada aras kelas, bias gender terjadi pada materi ajar maupun dalam proses belajar mengajar. Bias tersebut juga terdapat pada materi ajar, dapat dilihat dalam buku-buku pelajaran, munculnya pada ilustrasi, baik dalam ilustrasi maupun narasi. 

Umumnya penulis menggambarkan perbedaan dari keduamya dalam peran, fungsi, kedudukan, dan tanggung jawab. Selain itu adanya kecenderungan guru untuk menempatkan posisi siswa laki-laki lebih tinggi dari siswa perempuan. Padahal, pendidikan seharusnya memberikan kesempatan kepada semua pihak untuk memperoleh posisi yang sejajar, dengan mengacu pada usaha, kerja keras dan bukan atas dasar hak istimewa. Oleh karena itu, materi ajar yang dikemas dalam buku-buku pelajaran, dan begitu juga pelaksanaan belajar mengajar dikelas harus berwawasan gender.
 
Untuk dapat menghasilkan buku ajar yang berwawasan gender, dan merancangserta melaksanakan belajar mengajar di kelas, para guru memerlukan suatu rambu-rambu yang dapat berfungsi sebagai pedoman baginya untuk menulis bahan ajar dan merancang kegiatan belajar mengajar yang berwawasan gender. Untuk itulah diperlukan upaya melakukan pengembangan suatu bentuk Rambu-rambu Penulisan Bahan Ajar Berwawasan Gender. Kegiatan inilah yang dilakukan dalam penelitian ini.
 
Kegiatan ini dilaksanakan dengan melalui berbagai tahap sebagai berikut: Studi Pendahuluan, Penyusunan Draft Awal, Uji Ahli, Penyusunan Draft Kedua, Uji Coba Lapangan, dan Penyusunan Draft Akhir.

II. TEORI
A. Konsep Gender
Istilah Gender diketengahkan oleh para ilmuwan sosial untuk menjelaskan mana perbedaan perempuan dan laki-laki yang bersifat bawaan sebagai ciptaan Tuhan dan mana yang merupakan bentukan budaya yang dikonstruksikan, dipelajari dan disosialisasikan. Pembedaan ini sangat penting karena selama ini kita seringkali mencampuradukkan ciri manusia yang bersifat kodrati dan tidak berubah, dengan ciri manusia yang bersifat nonkodrati yang sebenarnya dapat berubah atau diubah. Dengan kata lain masyarakat tidak membedakan yang mana sebetulnya jenis kelamin (kodrat) dan yang mana gender.
 
Penanaman konsep gender dilakukan sebagai pengetahuan juga berupa penanaman sikap. Sehingga gendering merupakan konstruksi sosial-psikologis berarti secara historis dan budaya. Oleh karena itu mengimplementasikan gender pada bahan ajar bagi siswa perlu disajikan penanaman pengetahuan dan sikap mengenai hal-hal yang paling dekat dengan lingkungannya.
Penanaman pengetahuan yang baru dan pembentukan sikap gender memerlukan langkah-langkah yang berbeda dengan pengetahuan lainnya mengingat gender merupakan suatu pemaknaan budaya yang telah melekat di masyarakat.
Fenomena adanya bias gender dapat tampil dalam bentuk ketidakadilan akibat diskriminasi gender, seperti : a. marjinalisasi (pemiskinan), b. subordinasi (penomorduaan), c. pandangan streotipe, d. kekerasaan, e. beban kerja (Simatauw M. dkk, 2001).

B. Teori Belajar
Untuk mendorong terjadinya strategi belajar yang dianjurkan aliran konstruktif, dapat dilakukan pembelajaran melalui beberapa metode seperti :

1. Pembelajaran Induktif.
Hilda Taba mengembangkan model mengajar, dimana ia mengemukakan strategi mengajar yang meningkatkan kemampuan para siswa untuk menangani informasi. Model mengajar ini dikembangkan dengan asumsi bahwa dalam mengajar, situasi kelas merupakan kerjasama dari sejumlah kegiatan siswa.
Model pembelajaran seperti ini dinilai dapat digunakan sebagai pengenalan pengalaman baru. Konsep gender bagi siswa pada saat masih merupakan konsep baru yang belum banyak dikenal oleh siswa.

2. Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran ini merupakan suatu konsepsi yang membantu guru mengaitkan konten mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warga negara, dan tenaga kerja.
Pembelajaran ini mempunyai enam unsur kunci seperti : pembelajaran bermakna, penerapan pengetahuan, berpikir tingkat yang lebih tinggi, kurikulum yang dikembangkan berdasarkan standar, responsive terhadap budaya dan penilaian autentik (University of Washington, 2001).
Model pembelajaran ini dinilai sangat tepat untuk digunakan sebagai pengenalan konsep ketidaksetaraan, marginalisasi, diskriminasi, dan streotipe dapat dikembangkan saat pembelajaran.

3. Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran ini cenderung mengacu pada belajar kelompok siswa, dengan menggunakan empat pendekatan : a). STAD, pembelajaran dilakukan dengan melibatkan siswa secara heterogen, mereka perlu bekerjasama menyelesaikan tugas-tugasnya, diskusi, setiap minggu ada penilaian, diumumkan tim-tim dengan skor tinggi, siswa yang mencapai skor perkembangan tinggi artinya perlakuan yang diberikan adil baik kepada siswa laki-laki maupun perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk berkompetisi. b). Jigsaw, cara ini tanpa melihat jenis kelamin memiliki kesempatan belajar bagian tertentu dari materi ajar dan sama-sama memiliki tanggungjawab kepada temannya untuk mentransformasi isi dari pelajaran yang telah dipelajarinya. c). Investigasi Kelompok, model pembelajaran ini memerlukan cara yang mengajarkan siswa keterampilan komunikasi dan proses kelompok yang baik, serta norma dan struktur kelas yang lebih rumit. Siswa dikelompokkan dengan kawannya yang cenderung memiliki minat yang sama, kemudian memilih topik yang ingin diselidiki, selanjutnya menyiapkan dan mempresentasikannya. d). Pendekatan struktural, cara ini memiliki kemiripan dengan cara lain hanya saja ia dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Ada struktur yang dikembangkan untuk perolehan isi akademik, ada yang dirancang untuk mengajarkan keterampilan sosial atau keterampilan kelompok.

4. Proses Belajar Mengajar
PBM tidak terlepas dari tiga komponen utama yaitu; guru, siswa dan bahan ajar. Ahli lain menyatakan proses belajar merupakan interaksi antara berbagai unsur, dengan unsur utama adalah siswa, kebutuhan sebagai sumber, serta situasi belajar yang memberikan kemungkinan kegiatan belajar. Meskipun demikian guru merupakan faktor yang cukup menentukan, seperti melakukan pengembangan bahan ajar serta perangkat lainnya.

C. Perkembangan Siswa
Perkembangan siswa ditinjau dari rentang usia SD/MI, sampai dengan SLTA/MA.. Umumnya para ahli perkembangan melihat dari segi aspek perkembangan setiap masa itu mencakup perkembangan; fisik, kognitif (terutama ini), emosi, sosial, moral dan kepribadian. Khusus pada penelitian ini yang dibahas adalah perkembangan kognitif, sehingga dapat diperkirakan kesanggupan mereka menangkap berbagai konsep dalam hal ini konsep yang berwawasan gender.

D. Kurikulum Berbasis Kompetensi
Kurikulum ini merupakan merupakan kajian ulang terhadap kurikulum 1994. KBK berorientasi pada a) hasil dan implikasi yang diharapkan pada diri siswa melalui serangkaian pengalaman belajar dan b) keberagaman yang dapat diwujudkan sesuai dengan kebutuhannya. Kurikulum ini memiliki 9 prinsip dan salah satu prinsipnya adalah “kesamaan dalam memperoleh kesempatan” . Mengingat kurikulum merupakan pijakan global maka masih dibutuhkan rambu-rambu untuk menerjemahkannya menjadi bahan ajar, dalam hal ini pedoman yang dirancang untuk memudahkan guru dalam menulis bahan ajar dan kegiatan belajar mengajar yang berwawasan gender.

E. Materi Bahan Ajar
Salah satu wujud dari bahan ajar/materi bahan ajar adalah buku pelajaran, dan menurut Cunnings buku merupakan komponen yang sangat penting disamping guru dan siswa. Perangkat buku pelajaran itu terdiri dari 3 komponen, yaitu buku siswa, buku guru dan buku kerja siswa. Buku pelajaran memiliki fungsi yang meliputi ; sumber yang disajikan, untuk kegiatan siswa, sebagai acuan siswa ketika belajar, dorongan untuk berkegiatan di kelas, perwujudan silabus, sebagai sumber dalam tugas mandiri, bantuan bagi guru yang kurang berpengalaman. Topik dan bahan dalam buku pelajaran harus memiliki wacana yang dipilih berdasarkan konteks sosial, budaya dan kehidupan siswa sehingga menarik minat siswa. Bahan yang kontekstual dan mengandung topik yang menarik mampu memberi informasi, tantangan, dorongan memperkaya pengalaman, meningkatkan kepekaan bathin dan sosial, mengembangkan kepercayaan diri, mengembangkan kemampuan untuk memperhitungkan, serta meningkatkan keberanian siswa dalam mengambil keputusan.

F. Evaluasi Pembelajaran.
Dalam rangka menjaring hasil kerja siswa, maka pelaksanan penilaian dapat berbentuk, tes tertulias, penampilan (performance), penugasan atau proyek, dan portofolio. Tugas yang diberikan dapat berbentuk tugas individual maupun tugas kelompok. Dalam membuat penilaian yang akurat dan adil guru harus bersikap optimal yaitu : 1) memanfaatkan berbagai bukti hasil kerja siswa dari sejumlah penilaian yang dilakukan dengan berbagai strategi dan cara, 2) membuat keputusan yang adil terhadap penguasaan kemampuan siswa dengan mempertimbangkan hasil kerja yang dikumpulkan. Guru menetapkan tingkat pencapaian siswa berdasarkan hasil belajarnya pada kurun waktu tertentu dan dalam berbagai rentang situasi.

III. METODOLOGI
Proses pengembangan rambu-rambu penulisan berwawasan ajar dilakukan dalam rangkaian kegiatan yang tersistematis dengan melalui langkah-langkah dibawah ini :

1. Studi pendahuluan ; merupakan bentuk studi terhadap dokumen dan pustaka atas buku-buku pelajaran dan artikel-artikel lain yang ada dalam Jurnal Perempuan, dengan menggunakan analisis gender. Kesemuanya ditelaah pada uraian materi, bahasa yang digunakan, contoh uraian, serta ilustrasi. Meliputi 6 kelompok mata pelajaran. Mendidkusikan hasil analisis materi bahan ajar dan penelitian, kemudian menyusun laporan hasil studi pendahuluan.

2. Penyusunan Draft I . Berdasarkan studi pendahuluan, tim penyusunan menyusun draft 1 rambu-rambu bahan ajar berwawasan gender, yang terdiri dari 3 bab, yaitu pendahuluan, kajian teoritik serta penulisan bahan ajar dan kegiatan belajar mengajar.

3. Uji Ahli
Draft yang telah tersusun untuk selanjutnya direview oleh ahli. Review yang dilakukan para ahli bertujuan untuk mengetahui
Ketepatan penulisan. Para ahli melakukan analisis dan koreksi atas draft yang telah disusun, meliputi keterbacaan, muatan gender dan kesesuaian kurikulum. Penganalisaan para ahli yang memiliki kredibilitas di bidangnya masing-masing. Adapun yang dilakukan adalah analisis pada konten, fokus analisis disesuaikan dengan tujuannya.
Alat ukur yang digunakan untuk review adalah dalam bentuk angket terbuka dengan memberi peluang dua pilihan jawaban, yaitu: memadai dan tidak memadai dan diikuti dengan keterangan atau sasaran sebagai penjelasan atas pilihan jawaban yang dibuat oleh ketiga ahli. Review dilakukan pada keseluruhan isi rambu-rambu penulisan yang dihasilkan, meliputi dasar berpikir, landasan konsep teoritis dan
draft 1.

4. Penyusunan Draft II
Berdasarkan koreksi dari tiga ahli, tim penyusun melakukan perbaikan atas draft I, sehingga terjadi beberapa perubahan, dalam hal ini menyangkut isi dari pedoman rambu-rambu berwawasan gender. Hasil revisi ini disebut dengan draft II rambu-rambu penulisan bahan ajar berwawasan gender.

5. Ujicoba Lapangan
Ujicoba selanjutnya adalah ujicoba lapangan yang bertujuan untuk mengetahui tingkat keterterimaan dan kesesuaian rambu-rambu yang telah disusun apabila diterapkan di lapangan. Kegiatan ini dilakukan pada lima propinsi, yaitu Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali dan Sulawesi Selatan. Adapun responden adalah para guru, mulai dari tingkat SD dan/atau MI, SMP/MTs, dan SMU/MA, meliputi mata pelajaran kelompok IPA, IPS, Agama, Kertakes dan Penjaskes. Jumlah responden dengan target 60 orang ternyata beberapa berhalangan pada hari pelaksanaan, sehingga jumlah yang ada 56 orang.
Alat ukur yang digunakan adalah instrumen untuk mengukur tingkat keterterimaan yang dimaksud yakni kejelasan isi rambu-rambu penulisan bahan ajar yang mengacu pada KBK, Wawasan Gender, dan keterbacaan/kejelasan bahasa.
Waktu pelaksanaan ujicoba adalah minggu ke 3 dan 4 bulan September 2003.

IV. H A S I L
Ujicoba di lapangan melibatkan 56 responden yakni guru dari tingkat SD/MI sampai dengan SMA/MA. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa pedoman penulisan bahan ajar yang berwawasan gender 91,11% dapat diterima, dengan nilai rerata dari jawaban responden adalah 37, 56%. Adapun substansi yang dinilai dan kriteria penilaiannya, adalah 96% untuk pendahuluan mudah dipahami, 98% menyatakan sistematika penulisan runtut; kerangka penulisan cocok, dapat diterapkan dan mudah dipahami, masing-masing simpulan itu dinyatakan oleh 93%, 89%, dan 88% responden; topik hasil belajar penting, dan mudah dipahami, masing-masing dinyatakan dengan 89% dan 95% responden; indikator hasil belajar penting, dapat diterapkan, dan mudah dipahami, masing-masing simpulan itu dinyatakan oleh 95%, 95%, dan 89%; topik tentang materi, penting dan mudah dipahami, masing-masing dinyatakan 89% dan 93%; topik tentang latihan, penting, mudah dipahami, dan dapat diterapkan, masing-masing 96%, 89%, 88%; topik tentang evaluasi penting, mudah dipahami, dapat diterapkan, masing-masing dinyatakan 95%, 93% dan 95%; topik kegiatan belajar-mengajar (KBM) penting, mudah dipahami, dan dapat diterapkan dinyatakan 89%, 91%, dan 95%; topik prinsip-prinsip KBM, penting, mudah dan dapat diterapkan, masing-masing dinyatakan oleh 93%, 93%, dan 98%; topik langkah pembelajaran, penting, mudah dipahami, dan dapat diterapkan,91%, 98% dan 96%; Topik kegiatan guru, penting, mudah dipahami dan diterapkan di
nyatakan 86%, 95%, dan 96%; topik kegiatan siswa, penting, mudah dipahami, dan dapat diterapkan, dinyatakan 84%, 95%, 95%; gambar dengan penjelasan penyertanya, memadai dinyatakan 91%; ilustrasi naratif, mudah dipahami, dinyatakan 91%; tata letak memadai, dinyatakan 84 %; alur pikir, memadai dinyatakan 88%; sistematika penulisan memadai dinyatakan 88%, ilustrasi memadai dinyatakan 73%;ukuran buku memadai dinyatakan 75%; dan jenis serta ukuran huruf yang digunakan dalam draft rambu-rambu penulisan bahan ajar berwawasan gender memadai keseluruhan responden menjawab 84% menyatakan ya.
Berdasarkan jenis kelamin responden perempuan 90,99% dan laki-laki 91,22% menyatakan draft rambu-rambu penulisan bahan ajar berwawasan gender baik. Artinya yang dimaksud yakni jelas isinya mengacu kurikulum berbasis kompetensi, dan mengandung wawasan gender; juga dari segi kebahasan
yakni penggunaan bahasanya jelas.
Data berdasarkan wilayah menunjukkan : Jawa Timur 94.46%, Jawa Barat 91.80%, Sulawesi Selatan 90.48%, Sumatra Barat 91.13%, Bali 87.48% responden yang menyatakan baik dan jelas isinya serta kebahasaan yakni penggunaan bahasanya jelas mencakup pilihan kata yang digunakan, sistematika penulisan dengan keruntutan penyampaiannya sehingga mudah dipahami.
Berdasarkan analisis tersebut, disimpulkan draft Rambu-Rambu Penulisan Bahan Ajar Berwawasan Gender yang diujicobakan dapat diterapkan untuk digunakan sebagaimana tujuan yang mendasari perancangannya. Namun demikian, perlu diperbaiki dahulu merujuk kepada kritik dan saran-saran dibuat daftar istilah dan definisi/pengertiannya.

V. IMPLIKASI
1. Berdasarkan saran-saran dan kritik di atas untuk selanjutnya dilakukan ;
2. Perbaikan dengan membuat daftar istilah dan definisi/ pengertiannya, yang dimaksud adalah istilah-istilah teknis yang berhubungan dengan KBK serta Wawasan Gender.
3. Dibuat daftar isi untuk menjadi bagian dari Rambu-Rambu Penulisan Bahan Ajar Berwawasan Gender produk akhir pengembangan.
4. Perlunya perbaikan tampilan pada proses pencetakan.
5. Sosialisasi Rambu-ramabu ini kepada guru dan penulis bahan ajar. Sekaligus sosialisasi wawasan kesadaran gender dan wawasan KBK kepada guru maupun penulis.
6. Perlunya pelatihan kemampuan penerapan KBM yang mengacu kepada KBK dan Wawasan Gender.
7. Sebaiknya dilakukan penelitian lanjutan yang ditujukan untuk menghasilkan prototipe bahan ajar berwawasan gender untuk tingkat Pendidikan SD/MI,SLTP/MTs, dan SMAUMA.
DAFTAR PUSTAKA

Adam Geralf R. & Gullotta Thomas (1983), Adolencent life experience. California California : Brooks/Cole Publishing Company.
Ardhana, Wayan (1997) “Pandangan Behavioristik vs Konstruktivistik : Pemecahan Masalah Belajar di Abad XXI., Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Teknologi Pembelajaran, di Malang, 26 Juni 1997.
Brooks, J.G. dan Brooks, M.G. (1993). In search of understanding : the case for constructivist classrooms. Alexandria, Va. ; ASCD
Carin and Sun (1985). Teanching Science Through Discovery. Charles Merill Publishing Co Colombus Toronto.
Dahar R.W. (1989) Teori-teori Belajar. Bandung : Penerbit Erlangga
Good, T.L. dan Brophy, J., (1995). Contemporary Educational Psychology. 5th ed. N.Y.: Longman Publishers USA.
Hurlock E. (1991), Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan (Terjemahan dari “ Developmental Psychology: A Life-Span Aproach.” 1980. Jakarta : Erlangga.
Hullfish el al. (1981), Reflective Thinking The Method of Education, Ohio
Puskur (2002) Pengembangan Silabus KBK, Jakarta : Litbang Depdiknas.
Puskur (2002) Pelaksanaan KBK, Jakarta: Litbang Depdiknas.
Puskur Balitbang (2002) Kurikulum Hasil Belajar Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah, Jakarta: Litbang Depdiknas.
Puskur Balitbang (2002) Kurikulum Hasil Belajar Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah, Jakarta : Litbang Depdiknas.
Puskur Balitbang (2002) Kurikulum Hasil Belajar Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah , Jakarta : Litbang Depdiknas.
Beberapa teori belajar yang akan di bahas antara lain :
Teori belajar Skinner “Operant Conditioning”
Teori Belajar Conditining of Learning, Robert M. Gagne
Teori Belajar Perkekmembangan Kognitif Jean Piaget
Teori Belajar Sosial Albert Bandura
Teori Belajar Orang Dewasa
Teori Pembelajaran Orang Dewasa
 
a) Teori Operant Conditioning
Teori operant conditioning dimulai pada tahun 1930-an. Burhus Fredik Skinner selama periode teori stimulus (S)- Respons ( R) untuk menyempurnakan teorinya Ivan Pavlo yang disebut “Classical Conditioning”. Skinner setuju dengan konsepnya John Watson bahwa psikologi akan diterima sebagai sain (science) bila studi tingkah laku (behavior) tersebut dapat diukur, seperti ilmu fisika, teknik, dan sebagainya.
Menurut Skinner , belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang harus dapat diukur. Bila pembelajar (peserta didik) berhasil belajar, maka respon bertambah, tetapi bila tidak belajar banyaknya respon berkurang, sehingga secara formal hasil belajar harus bisa diamati dan diukur.
Hasil temuan skinner terdapat tiga komponen dalam belajar yaitu :
Discriminative stimulus (SD)
Response
Reinforcement (penguatan)
- penguatan positif
- penguatan negative
 
b) Teori Conditioning Of Learning, Robert M. Gagne
Teori ini ditemukan oleh Gagne yang didasarkan atas hasil riset tentang faktor-faktor yang kompleks pada proses belajar manusia. Penelitiannya diamksudkan untuk menemukan teori pembelajaran yang efektif. Analisanya dimulai dari identifikasi konsep hirarki belajar, yaitu urut-urutan kemampuan yang harus dikuasai oleh pembelajar (peserta didik) agar dapat mempelajari hal-hal yang lebih sulit atau lebih kompleks.
Menurut Gagne belajar memberi kontribusi terhadap adaptasi yang diperlukan untuk mengembangkan proses yang logis, sehingga perkembangan tingkah laku (behavior) adalah hasil dari efek belajar yang komulatif (gagne, 1968). Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa belajar itu bukan proses tunggal. Belajar menurut Gagne tidak dapat didefinisikan dengan mudah, karena belajar bersifat kompleks.
 
Gagne (1972) mendefinisikan belajar adalah : mekanisme dimana seseorang menjadi anggota masyarakat yang berfungsi secara kompleks. Kompetensi itu meliputi, skill, pengetahuan, attitude (perilaku), dan nilai-nilai yang diperlukan oleh manusia, sehingga belajar adalah hasil dalam berbagai macam tingkah laku yang selanjutnya disebut kapasitas atau outcome. Kemampuan-kemampuan tersebut diperoleh pembelajar (peserta didik) dari :
1. Stimulus dan lingkungan
2. proses kognitif
Menurut Gagne belajar dapat dikategorikan sebagai berikut :
1) Verbal information (informasi verbal)
2) Intellectual Skill (skil Intelektual)
3) Attitude (perilaku)
4) Cognitive strategi (strategi kognitif)
 
Belajar informasi verbal merupakan kemampuan yang dinyatakan , seperti membuat label, menyusun fakta-fakta, dan menjelaskan. Kemampuan / unjuk kerja dari hasil belajar, seperti membuat pernyataan, penyusunan frase, atau melaporkan informasi.
Kemampuan skil intelektual adalah kemampuan pembelajar yang dapat menunjukkan kompetensinya sebagai anggota masyarakat seperti; menganalisa berita-berita. Membuat keseimbangan keuangan, menggunakan bahasa untuk mengungkapkan konsep, menggunakan rumus-rumus matematika. 

Dengan kata lain ia tahu “ Knowing how” Attitude (perilaku) merupakan kemampuan yang mempengaruhi pilihan pembelajar (peserta didik) untuk melakukan suatu tindakan. Belajar mealui model ini diperoleh melalui pemodelan atau orang yang ditokohkan, atau orang yang diidolakan.
Strategi kognitif adalah kemampuan yang mengontrol manajemen belajar si pembelajar mengingat dan berpikir. Cara yang terbaik untuk mengembangkan kemampuan tersebut adalah dengan melatih pembelajar memecahkan masalah, penelitian dan menerapkan teori-teori untuk memecahkan masalah ril dilapangan. Melalui pendidikan formal diharapkan pembelajar menjadi “self learner” dan “independent tinker”.
 
c) Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget (Cognitive Development Theory)
Menurut Piaget pengetahuan (knowledge) adalah interksi yangterus menerus antara individu dengan lingkungan.
Fokus perkembangan kognitif Piaget adalah perkembangan secara alami fikiran pembelajar mulai anak-anak sampai dewasa. Konsepsi perkembangan kognitif Piaget, duturunkan dari analisa perkembangan biologi organisme tertentu. Menurut Piaget, intelegen (IQ=kecerdasan) adalah seperti system kehidupan lainnya, yaitu proses adaptasi.
 
Menurut Piaget ada tiga perbedaan cara berfikir yang merupakan prasyarat perkekmbangan operasi formal, yaitu; gerakan bayi, semilogika, praoprasional pikiran anak-anak, dan operasi nyata anak-anak dewas.
Ada empat faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif yaitu :
1) lingkungan fisik
2) kematangan
3) pengaruh sosial
4) proses pengendalian diri (equilibration)
(Piaget, 1977)
Tahap perkembangan kognitif :
1) Periode Sensori motor (sejak lahir – 1,5 – 2 tahun)
2) Periode Pra Operasional (2-3 tahun sampai 7-8 tahun)
3) Periode operasi yang nyata (7-8 tahun sampai 12-14 tahun)
4) Periode operasi formal
Kunci dari keberhasilan pembelajaran adalah instruktur/guru/dosen/guru harus memfasilitasi agar pembelajar dapat mengembangkan berpikir logis.
d) Teori Berpikir Sosial (social Learning Theory)
Teori ini dikembangkan oleh Albert Bandura seorang psikolog pendidikan dari Stanford University, USA. Teori belajar ini dikembangkan untuk menjelaskan bagaimana orang belajar dalam seting yang alami/lingkungan sebenarnya.
 
Bandura (1977) menghipotesiskan bahwa baik tingkah laku (B), lingkungan (E) dan kejadian-kejadian internal pada pembelajar yang mempengaruhi persepsi dan aksi (P) adalah merupakan hubungan yang saling berpengaruh (interlocking),
Harapan dan nilai mempengaruhi tingkah laku
Tingkah laku sering dievaluasi, bebas dari umpan balik lingkungan sehingga mengubah kesan-kesan personal
Tingkah laku mengaktifkan kontingensi lingkungan
Karakteristik fisik seperti ukuran, ukuran jenis kelamin dan atribut sosial menumbuhkan reaksi lingkungan yang berbeda.
Pengakuan sosial yang berbeda mempengaruhi konsepsi diri individu.
Kontingensi yang aktif dapat merubah intensitas atau arah aktivitas.
 
Tingkah laku dihadirkan oleh model
Model diperhatikan oleh pelajar (ada penguatan oleh model)
Tingkah laku (kemampuan dikode dan disimpan oleh pembelajar)
Pemrosesan kode-kode simbolik
Skema hubungan segitiga antara lingkungan, faktor-faktor personal dan tingkah laku, (Bandura, 1976).
Skema
Proses Kognitif Pembelajar
Pembelajar mampu menunjukkan kompetensi/tingkah laku
Performance/unjuk kerja
Motivasi pembelajar mengolah tingkah laku
 
Proses perhatian sangat penting dalam pembelajaran karena tingkah laku yang baru (kompetensi) tidak akan diperoleh tanpa adanya perhatian pembelajar. Proses retensi sangat penting agar pengkodean simbolik tingkah laku ke dalam visual atau kode verbal dan penyimpanan dalam memori dapat berjalan dengan baik. Dalam hal ini rehearsal (ulangan ) memegang peranan penting.
Proses motivasi yang penting adalah penguatan dari luar, penguatan dari dirinya sendiri dan Vicarius Reinforcement (penguatan karena imajinasi).
 
Lebih lanjut menurut Bandura (1982) penguasaan skill dan pengetahuan yang kompleks tidak hanya bergantung pada proses perhatian, retensi, motor reproduksi dan motivasi, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur yang berasal dari diri pembelajar sendiri yakni “sense of self Efficacy” dan “self – regulatory system”. Sense of self efficacy adalah keyakinan pembelajar bahwa ia dapat menguasai pengetahuan dan keterampilan sesuai standar yang berlaku.
 
Self regulatory adalah menunjuk kepada 1) struktur kognitif yang memberi referensi tingkah laku dan hasil belajar, 2) sub proses kognitif yang merasakan, mengevaluasi, dan pengatur tingkah laku kita (Bandura, 1978). Dalam pembelajaran sel-regulatory akan menentukan “goal setting” dan “self evaluation” pembelajar dan merupakan dorongan untuk meraih prestasi belajar yang tinggi dan sebaliknya.
 
Menurut Bandura agar pembelajar sukses instruktur/guru/dosen/guru harus dapat menghadirkan model yang mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pembelajar, mengembangkan “self of mastery”, self efficacy, dan reinforcement bagi pembelajar.
Berikut Bandura mengajukan usulan untuk mengembangkan strategi proses pembelajaran yaitu sebagi berikut :
No
Strategi Proses
1
Analisis tingkah laku yang akan dijadikan model yang terdiri :
a. Apakah karekter dari tingkah laku yang akan dijadikan model itu berupa konsep, motor skil atau efektif?
b. Bagaimanakah urutan atau sekuen dari tingkah laku tersebut?
c. Dimanakah letak hal-hal yang penting (key point) dalam sekuen tersebut?
2 Tetapkan fungsi nilai dari tingkah laku dan pilihlah tingkah laku tersebut sebagai model.
a. Apakah tingkah laku (kemampuan yang dipelajari) merupakan hal yang penting dalam kehidupan dimasa datang? (success prediction)
b. Bila tingkah laku yang dipelajari kurang memberi manfaat (tidk begitu penting) model manakah yang lebih penting?
c. Apakah model harus hidup atau simbol?
Pertimbangan soal biaya, pengulangan demonstrasi dan kesempatan untuk menunjukkan fungsi nilai dan tingkah laku.
d. Apakah reinforcement yang akan didapat melalui model yang dipilih?
3
Pengembangan sekuen instruksional
a. Untuk mengajar motor skill, bagaimana caramengerjakan pekerjaan/kemampuan yang dipelajari :how to do this” dan bukannya “not this”.
Langkah-langkah manakah menurut sekuen yang harus dipresentasikan secara perlahan-lahan
4
Implementasi pengajaran untuk menunut proses kognitif dan motor reproduksi.
a. motor skill
1) hadirkan model
2) beri kesempatan kepada tiap-tiap pembelajar untuk latihan secarasimbolik
3) beri kesempatan kepada pembelajar untuk latihan dengan umpan balik visual
b. proses kognitif
1) Tampilkan model, baik yang didukung oleh kode-kode verbal atau petunjuk untuk mencari konsistensi pada berbagai contoh
2) Beri kesempatan kepada pembelajar untuk membuat ihtisar atau summary
3) Jika yang dipelajari adalah pemecahan masalah atau strategi penerapan beri kesempatan pembelajar untuk berpartisipasi secaraaktif
4) Beri kesempatan pembelajar untuk membuat generalisasi ke berbagai siatuasi.
Dari uraian tentang teori belajar sosial, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Belajar merupakan interaksi segitiga yang saling berpengaruh dan mengikat antara lingkungan, faktor-faktor personal dan tingkah laku yang meliputi proses-proses kognitif belajar.
2. komponen-komponen belajar terdiri dari tingkah laku, konsekuensi-konsekuensi terhadap model dan proses-proses kognitif pembelajar.
3. hasil belajar berupa kode-kode visual dan verbal yang mungkin dapat dimunculkan kembali atau tidak (retrievel).
4. dalam perencanaan pembelajaran skill yang kompleks, disamping pembelajaran-pembelajaran komponen-komponen skill itu sendiri, perlu ditumbuhkan “sense of efficacy” dan self regulatory” pembelajar.
5. dalam proses pembelajaran, pembelajar sebaiknya diberi kesempatan yang cukup untuk latihan secara mental sebelum latihan fisik, dan “reinforcement” dan hindari punishment yang tidak perlu.
 
Ahli lain yaitu Bloom dkk, menjelaskan domain tujuan pendidikan ada tiga ranah yaitu : 1) kognitif, yang berhubungan dengan ingatan, pengetahuan, dan perkembangan kemampuan dan skill intelektual, 2) afektif yang menjelaskan tentang perubahan dalam minat, perilaku (attitudes), nilai-nilai dan perkembangan dalam apresiasi dan penyesuaian , dan 3) psikomotor.
2. Teori Belajar Orang dewasa
Gagne membagi teori belajar dalam 3 famili :
a. conditioning
b. modelling
c. kognitif
Kingsley dan Garry membagi teori belajar dalam 2 bagian yaitu ;
a. teori stimulus-respon
b. teori medan
Taba membagi teori belajar menjadi 2 famili :
a. teori asosiasi atau behaviorisme
b. teori organismik, gestalt dan teori medan
 
Di dalam pembahasan akan difokuskan pada teori belajar orang dewasa. Ada aliran inkuiri yang merupakan landasan teori belajar dan mengajar orang dewasa yaitu : “scientific stream” dan “artistic atau intuitive/reflective stream”. Aliran “scientific stream” adalah menggali atau menemukan teori baru tentang belajar orang dewasa melalui penelitian dan eksperimen . Teori ini diperkenalkan oleh Edward L. Thorndike dengan pubilkasinya “ Adult Learning”, pada tahun 1928.
 
Pada aliran artistic, teori baru ditemukan melalui instuisi dan analisis pengalaman yang memberikan perhatian tentang bagaimana orang dewasa belajar. Aliran ini diperkenalkan oleh Edward C. Lindeman dalam penerbitannya “ The Meaning of Adult Education” pada tahun 1926 yang sangat dipengaruhi oleh filsafat pendidikan John Dewey.
 
Menurutnya sumber yang paling berguna dalam pendidikan orang dewasa adalah pengalaman peserta didik. Dari hasil penelitian, Linderman mengidentifikasi beberapa asumsi tentang pembelajar orang dewasa yang dijadikan fondasi teori belajar orang dewasa yaitu sebagai berikut :
1) pembelajar orang dewasa akan termotivasi untuk belajar karena kebutuhan dan minat dimana belajar akan memberikan kepuasan
2) orientasi pembelajar orang dewasa adalah berpusat pada kehidupan, sehingga unit-unit pembelajar sebaiknya adalah kehidupan nyata (penerapan) bukan subject matter.
3) Pengalaman adalah sumber terkaya bagi pembelajar orang dewasa, sehingga metode pembelajaran adalah analisa pengalaman (experiential learning).
4) Pembelajaran orang dewasa mempunyai kebutuhan yang mendalam untuk mengarahkan diri sendiri (self directed learning), sehingga peran guru sebagai instruktur.
5) Perbedaan diantara pembelajar orang dewasa semakin meningkat dengan bertambahnya usia, oleh karena itu pendidikan orang dewasa harus memberi pilihan dalam hal perbedaan gaya belajar, waktu, tempat dan kecepatan belajar.
 
Carl R Rogers (1951) mengajukan konsep pembelajaran yaitu “ Student-Centered Learning” yang intinya yaitu :
1) kita tidak bisa mengajar orang lain tetapi kita hanya bisa menfasilitasi belajarnya.
2) Seseorang akan belajar secarasignifikan hanya pada hal-hal yang dapat memperkuat/menumbuhkan “self”nya
3) Manusia tidak bisa belajar kalau berada dibawah tekanan
4) Pendidikan akan membelajarkan peserta didik secara signifkan bila tidak ada tekanan terhadap peserta didik, dan adanya perbedaan persepsi/pendapat difasilitasi/diakomodir
 
Peserta didik orang dewasa menurut konsep pendidikan adalah :
1) meraka yang berperilaku sebagai orang dewasa, yaitu orang yang melaksanakan peran sebagai orang dewasa
2) meraka yang mempunyai konsep diri sebagai orang dewasa
Andragogi mulai digunakan di Netherlands oleh professor T.T Ten have pada tahun 1954 dan pada tahun 1959 ia menerbitkan garis-garis besar “Science of Andragogy”
 
Model andragogi mempunyai konsep bahwa : kebutuhan untuk tahu (The need to know), konsep diri pembelajar ( the learner’s concept),peran pengalaman pembelajar (the role of the leaner’s experience), kesiapan belajar ( readiness to learn), orientasi belajar (orientation of learning) dan motivasi lebih banyak ditentukan dari dalam diri si pembelajar itu sendiri.
Didalam pembelajaran orang dewasa tidak sepenuhnya harus menggunakan model andragogi, tetapi bisa digabung model pedagogi. Jika pembelajarnya belum mengetahui atau sangat asing dengan materi yang disampaikan tentunya kita bisa menggunakan model pedagogi pada awal-awal pertemuan untuk mengkonstruksi pengalaman dengan pengetahuan yang baru didapatkan, selanjutnya bisa digunakan model andragogi sebagai penguatan dan pengembangan.

Orang Dewasa
Gagne membagi teori belajar dalam 3 famili :
a. conditioning
b. modelling
c. kognitif
Kingsley dan Garry membagi teori belajar dalam 2 bagian yaitu ;
a. teori stimulus-respon
b. teori medan
Taba membagi teori belajar menjadi 2 famili :
a. teori asosiasi atau behaviorisme
b. teori organismik, gestalt dan teori medan
Di dalam pembahasan akan difokuskan pada teori belajar orang dewasa. Ada aliran inkuiri yang merupakan landasan teori belajar dan mengajar orang dewasa yaitu : “scientific stream” dan “artistic atau intuitive/reflective stream”. Aliran “scientific stream” adalah menggali atau menemukan teori baru tentang belajar orang dewasa melalui penelitian dan eksperimen . Teori ini diperkenalkan oleh Edward L. Thorndike dengan pubilkasinya “ Adult Learning”, pada tahun 1928.
 

Pada aliran artistic, teori baru ditemukan melalui instuisi dan analisis pengalaman yang memberikan perhatian tentang bagaimana orang dewasa belajar. Aliran ini diperkenalkan oleh Edward C. Lindeman dalam penerbitannya “ The Meaning of Adult Education” pada tahun 1926 yang sangat dipengaruhi oleh filsafat pendidikan John Dewey.
 
Menurutnya sumber yang paling berguna dalam pendidikan orang dewasa adalah pengalaman peserta didik. Dari hasil penelitian, Linderman mengidentifikasi beberapa asumsi tentang pembelajar orang dewasa yang dijadikan fondasi teori belajar orang dewasa yaitu sebagai berikut :
1) pembelajar orang dewasa akan termotivasi untuk belajar karena kebutuhan dan minat dimana belajar akan memberikan kepuasan
2) orientasi pembelajar orang dewasa adalah berpusat pada kehidupan, sehingga unit-unit pembelajar sebaiknya adalah kehidupan nyata (penerapan) bukan subject matter.
3) Pengalaman adalah sumber terkaya bagi pembelajar orang dewasa, sehingga metode pembelajaran adalah analisa pengalaman (experiential learning).
4) Pembelajaran orang dewasa mempunyai kebutuhan yang mendalam untuk mengarahkan diri sendiri (self directed learning), sehingga peran guru sebagai instruktur.
5) Perbedaan diantara pembelajar orang dewasa semakin meningkat dengan bertambahnya usia, oleh karena itu pendidikan orang dewasa harus memberi pilihan dalam hal perbedaan gaya belajar, waktu, tempat dan kecepatan belajar.
 

Carl R Rogers (1951) mengajukan konsep pembelajaran yaitu “ Student-Centered Learning” yang intinya yaitu :
1) kita tidak bisa mengajar orang lain tetapi kita hanya bisa menfasilitasi belajarnya.
2) Seseorang akan belajar secarasignifikan hanya pada hal-hal yang dapat memperkuat/menumbuhkan “self”nya
3) Manusia tidak bisa belajar kalau berada dibawah tekanan
4) Pendidikan akan membelajarkan peserta didik secara signifkan bila tidak ada tekanan terhadap peserta didik, dan adanya perbedaan persepsi/pendapat difasilitasi/diakomodir
Peserta didik orang dewasa menurut konsep pendidikan adalah :
1) meraka yang berperilaku sebagai orang dewasa, yaitu orang yang melaksanakan peran sebagai orang dewasa
2) meraka yang mempunyai konsep diri sebagai orang dewasa
Andragogi mulai digunakan di Netherlands oleh professor T.T Ten have pada tahun 1954 dan pada tahun 1959 ia menerbitkan garis-garis besar “Science of Andragogy”
 

Model andragogi mempunyai konsep bahwa : kebutuhan untuk tahu (The need to know), konsep diri pembelajar ( the learner’s concept),peran pengalaman pembelajar (the role of the leaner’s experience), kesiapan belajar ( readiness to learn), orientasi belajar (orientation of learning) dan motivasi lebih banyak ditentukan dari dalam diri si pembelajar itu sendiri.
 

Didalam pembelajaran orang dewasa tidak sepenuhnya harus menggunakan model andragogi, tetapi bisa digabung model pedagogi. Jika pembelajarnya belum mengetahui atau sangat asing dengan materi yang disampaikan tentunya kita bisa menggunakan model pedagogi pada awal-awal pertemuan untuk mengkonstruksi pengalaman dengan pengetahuan yang baru didapatkan, selanjutnya bisa digunakan model andragogi sebagai penguatan dan pengembangan.


Silahkan Baca juga Postingan berikut:

0 komentar:


Komentar Anda

Fresh From Site

Tinggalkan Komentar Anda



 

Ucapan Terima Kasih

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, Saya ingin mengungkapkan rasa syukur ke hadirat Allah SWT, dan mengucapkan terima kasih yang tak terhingga, atas segala saran, sambutan dan komentar atas blog yang baru saya ciptakan ini. Saya menyimak dengan sungguh-sungguh semua masukan yang telah diberikan. Saya menganggap semua itu sangat berharga bagi saya, sebagai seorang pemula di dunia blog. Saya telah bertemu secara langsung dengan beberapa senior saya, k' Ishak, Bang Momang dan beberapa yang lain. Saya mulai belajar dari mereka di Roemah Kopi di Jl. Sultan Alauddin No. 148 Makassar Sulawesi Selatan. Pelajaran yang saya terima sungguh sangat berharga. Saya bukan saja dapat berkenalan secara langsung dengan mereka yang telah relatif lama berkecimpung di dunia perblogan, tetapi juga dapat menimba ilmu dengan mereka. Atas kebaikan dan saran mereka, serta rekan-rekan yang lain, akhirnya saya membuat blog saya sendiri, sebagai wahana pembelajaran bagi saya dan dalam bertukar pikiran khususnya dalam bidang Fisika yang saya geluti. Mereka bahkan telah berbaik hati membantu saya membuat blog yang baru, dengan disain dan penampilan, yang Insya Allah, akan lebih baik. Blog ini saya buat untuk mendukung pekerjaan saya sebagai Tenaga Pendidik. Dengan blog ini, rekan-rekan yang ingin menyampaikan komentar, akan lebih mudah melakukannya. Saya ingin membuka ruang yang selebar-lebarnya pada blog saya ini, sehingga mereka yang bukan “blogger” juga dapat mengakses dan menyampaikan komentar mereka. Saya ingin belajar, mendengar dan memperhatikan pandangan dari semua orang, tanpa mempersoalkan siapa orang itu. Mungkin pandangan kita berbeda, bahkan bertentangan satu sama lain. Tetapi tidak mengapa. Saya percaya bahwa hikmah dan kebijaksanaan, akan kita peroleh di tengah benturan pendapat yang berbeda-beda. Meskipun demikian, dalam rangka pembelajaran bagi kita semua, alangkah baiknya jika suatu pendapat yang kita kemukakan, didasari oleh argumentasi-argumentasi sebagai pendukungnya. Seperti telah saya ungkapkan dalam Kata Pengantar, saya hanyalah seorang hamba Allah yang dhaif. Pengetahuan saya sangatlah terbatas. Karena itu, saya berlindung kepada Allah SWT, agar saya dijauhkan dari sikap “ngotot” dan ingin benar sendiri. Saya selalu mengemukakan pendapat dengan dilandasi oleh suatu argumen. Kalau ternyata, dalam suatu pertukar-pikiran, saya menemukan pendapat orang lain yang didukung oleh argumen yang lebih kokoh dibandingkan dengan argumen yang saya miliki, maka saya dengan tulus dan ikhlas akan meninggalkan pendapat saya, dan mengikuti pendapat orang lain itu. Saya selalu memohon kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, semoga saya dijauhkan dari segala sikap takabur, riya dan sombong. Semoga pula Dia senantiasa menyirami batin dan pikiran saya, dengan sikap tawaddhu’ dan rendah hati. Sebelum mengakhiri ungkapan terima kasih ini, saya ingin mengajak rekan-rekan semua untuk tetap menggunakan bahasa yang baik, sopan dan saling menghormati, walaupun mungkin kita berbeda dalam mengemukakan pendapat. Akhirnya, saya mohon maaf tentang penggunaan bahasa yang kurang pas. Raja Ali Haji bin Raja Ahmad, seorang pujangga Melayu keturunan Bugis yang hidup di abad 19. Beliau pernah berkata bahwa bahasa itu menunjukkan bangsa. Bahasa yang baik, menunjukkan bangsa yang baik. Bahasa yang buruk, menunjukkan bangsa yang buruk pula. Wallahu’alam bissawwab.

Banner